CARA BUDIDAYA IKAN MAS


Budidaya Ikan Mas merupakan salah satu bisnis perikanan yang menjanjikan saat ini. Mengingat kebutuhan ikan mas sangatlah tinggi. Ikan konsumsi yang satu ini diminati oleh semua kalangan, ekonomi kelas atas, menegah hingga kelas bawah.

Ikan mas disajikan dalam bentuk aneka sajian yang enak. Tidak heran kalau restoran hingga rumah makan membutuhkan stok ikan mas yang cukup besar. Prospek bisnis budidaya ikan mas masih terbuka lebar, mengingat tidak banyak yang membudidayakan ikan mas.

Ada dua segmen Budidaya Ikan Mas, tergantung pilihan dan kemauan anda, apakah anda tertarik pada segmen pembenihan atau pembesaran. Untuk lokasi budidaya, idealnya didalakukan di daerah dengan ketinggian 150-1000 meter dpl pada suhu ideal 20-25oC dengan pH air berkisar 7-8.

A. Tahap Pembenihan Ikan Mas
Untuk tahap awal, pada segemen pembenihan, kita harus memilih bibit indukan yang berkualitas baik. Kualitas baik bisa kita dapatkan dengan cara memilih keturunan yang memiliki sifat unggul. Sama halnya dengan ikan-ikan lainnya, calon indukan ikan mas harus dipelihara pada satu kolam pembenihan yang kita pisahkan antara indukan jantan dan betinanya. Pemisahan dilakukan sampai kedua indukan siap memijah. Proses pemijahan atau perkawinan ikan mas dilakukan di kolam khusus.


Kolam tersebut harus dilengkapi dengan kakaban, tempat untuk menempelkan telur hasil pembuahan.
Tips Memilih Calon Indukan Ikan Mas
Berikut ini tips yang bisa anda lakukan untuk memilih calon indukan yang berkualitas baik:
Pertama, lakukan seleksi calon indukan sejak calon indukan berukuran 100-200 gram.
Tips yang kedua, untuk umur indukan betina sebaiknya tidak kurang dari 1,5-2 tahun dengan berat minimal 2 kg per ekor. Untuk indukan jantan umurnya tidak kurang dari 8 bulan dengan berat minimal 0,5 kg per ekor.
Kenampakan indukan harus berbadan mulus, tidak cacat, sirip-siripnya tidak rusak. Ikan mas yang baik untuk indukan kepalanya lebih kecil dari badannya. Insangnya bersih, tidak ada bintik-bintik putih. Lensa matanya tampak jernih.Sisik di kedua sisi badannya simetris, tidak ada lekukan dan patahan. Warna sisik cerah, sisik yang kusam menandakan ikan terlalu tua. Sisik tersusun rapi dan ukurannya relatif besar. Ekornya baik dan kuat. Panjang ekornya lebih besar dibanding dengan lebarnya.
Nah, perlu diperhatikan agar calon indukan harus berasal dari keturunan yang berbeda, baik jantan maupun betina. Supaya tidak terjadi inbreeding yang menurunkan kualitas benih ikan.

1. Tahap Memelihara Indukan Ikan Mas
Setelah kita mendapatkan calon indukan yang akan kita gunakan nantinya, maka dibutuhkan perawatan dan penanganan khusus.
emeliharaan indukan jantan dan betina harus terpisah, masing-masing indukan menempati kolam yang berbeda. Kedalaman air kolam berkisar 60-80 cm. Sumber pengairan untuk kedua kolam tersebut harus pararel. Apabila di susun seri sebaiknya kolam indukan jantan diletakkan setelah kolam indukan betina.
Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi perkawinan tak disengaja. Karena bila indukan jantan melepaskan spermanya dan terbawa masuk ke kolam betina, bukan tidak mungkin akan terjadi pemijahan tak disengaja.
ndukan ikan mas membutuhkan luasan kolam 5 m2 per kg bobot tubuh. Artinya, bila kita memiliki indukan seberat 5 kg dibutuhkan minimal kolam seluas 25 m2. Dan, bila kita mempunyai 2 indukan maka dibutuhkan luasan kolam sebesar 50 m2. Kapasitas kolam bisa bertambah bila kualitas air dan sirkulasinya lebih baik. Suhu air ideal berkisar 25-30oC.
Indukan harus diberikan pakan yang sehat dan bergizi. Pakan utama bisa berupa pelet yang kandungan proteinnya 30-35%. Makanan tambahan lain yang diberikan adalah dedak jagung atau menir. Jangan memberikan pakan yang kandungan lemaknya tinggi.
Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh indukan ikan mas sekitar 2-4% dari berat tubuhnya per hari. Frekuensi pemberian pakan sehari dua kali, setiap pagi dan sore. Indukan yang telah dikawinkan bisa melakukan perkawinan lagi setelah diistirahatkan di kolam indukan selama 2-3 bulan.

2. Tahap Persiapan Pemijahan Indukan Ikan Mas
Sebelum kita memijahkan indukan ikan mas, sebaiknya kita perhatikan ciri-ciri indukan yang siap untuk dipijah, namun secara umum indukan ikan mas betina yang ideal untuk dipijahkan berumur 1,5-2 tahun dengan bobot tubuh 2-3 kg. Sedangkan untuk ikan mas jantan lebih cepat memasuki masa matang gonad, yaitu pada umur 10-12 bulan dengan bobot tubuh 0,6 kg.

Berikut ini ciri-ciri indukan jantan dan betina yang siap untuk kita pijahkan:
Ciri-ciri indukan ikan mas betina matang gonad
Perut bagian bawah lunak, bentuknya buncit dan membulat.
Alat genital kemerahan dan mengembang agak terbuka.
Bagian anus terlihat menonjol seperti membengkak
Ciri-ciri indukan jantan ikan mas matang gonad
Bila perut bagian bawah ditekan akan mengeluarkan sperma, cairan berwarna putih.
Tubuh ramping dan gesit.

3. Tahap Pemberokan Indukan Ikan Mas
Sebelum dilakukan pemijahan, indukan harus mendapatkan perlakuan khusus, yaitu pemberokan. Pemberokan adalah pemeliharaan indukan jantan dan betina dalam kolam terpisah, tanpa diberi makan selama 1-2 hari. Tujuan pemberokan untuk menghilangkan lemak disekitar kantong telur. Lemak yang menyelubungi kantong telur akan menghambat pelepasan sel telur ketika memijah.
Selain itu pemberokan juga bertujuan untuk menahan sementara keinginan memijah indukan. Dengan begitu saat waktunya dipijahkan kedua indukan saling tertarik dan melakukan pembuahan.

4. Tahap Persiapan Kolan Pemijahan
Sembari indukan kita berokan, siapkan kolam khusus untuk indukan kawin atau memijah nantinya. Perlu sama-sama kita ketahui bahwa, setidaknya indukan betina yang akan memijah membutuhkan luasan kolam 6 m2 per kg bobot tubuh, dengan kedalaman air kolam 60-80 cm. Misalnya, untuk indukan seberat 5 kg dibutuhkan kolam seluas 30 m2. Jadi, kolam seluas 100 m2 kira-kira bisa diisi oleh 3 indukan.
Persiapan kolan pemijahan berupa kakaban yang nantinya dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan telur-telur yang telah dibuahi. Kakaban dibuat dari ijuk yang dijepit dengan bilah bambu dan dikasih pemberat agar tenggelam dalam air.
Lebar kakaban biasanya 40 cm, panjangnya bervariasi bisa dibuat 1-2 meter. Cara membuat kakaban adalah sebagai berikut:
Ijuk disisir rapi dengan sisir kawat, diletakkan berjejer hingga sepanjang panjang kakaban.
Kemudian siapkan dua bilah bambu untuk menjepit ijuk tersebut. Bagian yang dijepit adalah tengah, lihat gambar dibawah.
Paku kedua bilah bambu tersebut agar menjepit ijuk dengan kuat.
Kebutuhan kakaban untuk pemijahan ikan mas tergantung pada ukuran dan jumlah indukan. Untuk kakaban berukuran 40×100 cm dibutuhkan 5-6 kakaban per kg induk ikan mas. Misalnya, indukan sebesar 5 kg membutuhkan 25-30 kakaban.
Selanjutnya pasang kakaban di dasar kolam. Ikatkan kakaban pada patok yang menancap ke dasar kolam sehingga kakaban dalam posisi melayang. Tidak mengapung di atas air sekaligus juga tidak tenggelam di dasar kolam. Kira-kira berada dibawah permukaan air sekitar10-25 cm.

5. Tahap Pemijahan Indukan Ikan Mas
Setelah semuanya siap, baik itu kolam maupun indukan, barulah kita lakukan proses pemijahan, berikut ini panduan pemijahan ikan mas yang bisa anda jadikan sebagai referensi:
Kakaban ijuk dipasang melayang dalam air, sekitar 10-15 cm dibawah permukaan air. Ikat kakaban pada patok yang menancap kuat agar tidak bergeser oleh aktivitas ikan saat memijah.
Masukkan indukan betina dan jantan bersama-sama. Perbandingan bobot indukan betina dan jantan 1:1, sedangkan dari jumlahnya bisa 2:1 atau 3:1.
Pelepasan induk biasanya berlangsung pada sore hari sekitar pukul 16.00-17.00. Proses pemijahan akan berlangsung dini hari sekitar pukul 01.00-06.00. Ditandai dengan ikan saling berkejaran dan bau amis menyelimuti air kolam.
Amati kakaban setelah 24 jam sejak indukan dilepaskan di kolam pemijahan. Dalam tempo ini seharusnya kakaban sudah dipenuhi telur yang menempel. Kakaban yang sudah berisi telur digoyang-goyangkan agar bersih dari lumpur. Kemudian diangkat untuk dipindahkan ke kolam penetasan atau hapa. Kolam atau tempat penetasan harus sudah disiapkan setidaknya sehari sebelum proses pemijahan.

6. Tahap Penetasan Telur Ikan Mas
Setelah proses pemijahan selesai dan berhasil, biasanya kita bisa melihat butiran-butiran telur kecil yang menempel pada kakaban.  Penetasan telur hasil pemijahan ikan mas bisa dilakukan di berbagai tempat atau wadah. Tempat yang biasa digunakan adalah bak semen, kolam terpal, akuarium, bak fiber atau kolam. Apabila kita ingin menetaskan telur di kolam, misalnya di kolam pemijahan harus dilengkapi dengan hapa.
Hapa adalah jaring halus berukuran 1 mm atau lebih kecil dari ukuran telur yang diletakkan di dalam kolam. Bentuk hapa seperti jaring apung yang ada di waduk-waduk.

Setelah proses pemijahan selesai, segera pindahkan kakaban yang dipenuhi telur ke tempat pemijahan. Bersihkan terlebih dahulu kakaban dari lumpur dengan digoyang-goyangkan secara lembut. Kemudian angkat dan pindahkan ke kolam penetasan atau ke dalam hapa. Tempat penetasan sebaiknya terlindung dari air hujan dan panas yang berlebihan.

Untuk mencegah tumbuhnya jamur, air di kolam penetasan bisa diberikan methylen blue.  Sedangkan untuk penetasan di hapa, kakaban bisa rendam terlebih dahulu dalam air yang sudah dicampur methylen blue. Kemudia letakan kakaban sekitar 5-10 cm dibawah permukaan air.

Pada suhu ideal yaitu 28-30oC, telur akan menetas dalam 1-3 hari. Setelah menetas menjadi larva, tidak perlu langsung dikasih pakan. Karena larva masih membawa nutrisi yang terdapat dalam kuning telur. Setelah berumur 2-3 hari, larva bisa diberi pakan.

Salah satu jenis pakan yang bisa diberikan untuk larva adalah kuning telur yang telah direbus. Kemudian dilumat, satu butir kuning telur dicampur dengan satu liter air lalu diberikan ke benih ikan. Pemberian makan sehari dua kali setiap pagi dan sore.

Pemeliharaan di kolam penetasan berlangsung sampai larva berumur satu minggu. Ukuran larva mencapai 1-2 cm. Selanjutnya larva dipindahkan ke kolam pendederan untuk proses pembesaran benih.

7. Tahap Pendederan Benih Ikan Mas
Setelah telur menetas, tahapan selanjutnya adalah pemeliharan larva ikan mas. Pendederan sendiri terbagi menjadi beberapa tahapan, sesuai dengan usia benih ikan itu sendiri.

7.1 Tahap Pendederan 1
Pada tahap awal pendederan, benih yang baru berusia 7 hari dipindahkan ke kolam pendederan dari kolam penetasan telur. Pendederan bisa dilakukan di kolam yang biasa digunakan untuk budidaya pembesaran. Sebelum larva kita pindahkan ke kolam pendederan, pastikan bahwa kolan sudah siap ditempati, lakukan pengeringan, penjemuran, pengapuran, pemupukan dan penggenangan air (direkomendasikan).

Kepadatan kolam perlu kita perhatikan untuk menghindari kolam terlalu padat, idealnya kolam dengan ukuran 1x1x0,6 meter diisi oleh sekitar 100-200 ekor.

Untuk aliran air jangan terlalu deras, karena bibit masih terlalu kecil, usahakan masukan dan keluaran air diberi saringan halus. Tujuannya agar hama seperti kodok dan kecebong tidak masuk ke dalam kolam dan bersaing dengan benih ikan.

Jika kolam sudah siap, saatnya kita masukan benih ke dalam kolam, untuk memasukan benih usahakan pada saat belum panas pada pagi hari. Siapkan baskom atau wadah untuk memindahkan ikan, saat memasukan ikan jangan diguyur, namun anda masukan juga wadah tersebut ke dalam kolam, biarkan ikan pindah dengan sendiri ke kolam yang baru tersebut, tidak perlu anda tumpahkan.

Pakan

Pada tahap pendederan 1 ini, pakan bisa berupa biota air yanng ditumbuhkan dalam kolam. Pakan tersebut cukup untuk benih yang masih kecil. Sebagai tambahan bisa diberikan pelet halus. Lama pemeliharaan pendederan pertama sekitar 4 minggu. Dealam tempo tersebut akan dihasilkan benih ikan berukuran 2-3 cm.
7.2 Tahap Pendederan 2
Tahap pendederan kedua ini untuk ikan berusia lebih dari 4 minggu, dan lamanya pendederan tahap ini juga sama yaitu 4 minggu ke depan. Untuk kepadatan kolan perlu kita perhatikan, idealnya padat tebar sekitar 50-75 ekor/m2. Untuk kolamnya sendiri, secara teknis pendederan kedua bisa dilakukan di kolam yang sama, tidak perlu pindah, hanya perlu diperhatikan kepadatannya.
7.3  Tahap Pendederan 3
Tahap pendederan yang ketiga ini kepadatan kolam sekitar 25-30 ekor/m2. Pendederan ke tiga menghasilkan benih berukuran 5-8 cm. Untuk jenis kolamnya sama dengan pendederan sebelumnya.
7.4 Tahap Pendederan 4
Pada tahap pembenihan khususnya pendederan yang keempat ini, kepadatan kolam yaitu sekitar 3-5 ekor/m2. Benih yang dihasilkan berukuran sekitar 8-12 cm, dengan bobot tubuh 80-100 gram per ekor. Ikan sebesar ini sudah cukup kuat untuk budidaya pembesaran. Lama tahap ini juga 4 minggu.
7.5 Pemanenan Benih Ikan Mas
Pada tahap akhir dari pembenihan yaitu berupa pemanenan benih. Lamanya waktu dari proses pemijahan sampai ke tahapan ini sekitar 4,5 bulan. Selanjutnya, benih ikan dijual ke petani pembesaran. Kebutuhan benih untuk budidaya pembesaran biasanya berukuran 100 gram per ekor.

B. Tahap Pembesaran Ikan Mas
Untuk tahap selanjutnya adalah pembesaran benih-benih yang sudah diperluhara sekitar 4,5 bulan dengan bobot sekitar 80-100 gr/ekor. Ukuran benih sebesar ini diharapkan sudah cukup kuat untuk dibesarkan. Sehingga risiko kegagalan bisa ditekan. Lama pembesaran ikan mas berkisar 2-3 bulan.

Budidaya ikan mas bisa dilakukan dalam berbagai teknik seperti metode air deras, air tenang atau tumpang sari. Medium atau tempatnya bisa berupa kolam tanah, kolam tembok, kolam terpal, sawah, keramba dan jaring apung.

Berikut ini beberapa contoh sarana budidaya ikan mas yang bisa anda gunakan:

1. Kolam Tanah (Air Tenang)
Kolam tanah membutuhkan perlakukan khusus agar bisa digunakan untuk budidaya ikan mas, kolam tanah memiliki keunggulan ketimbang kolam lainnya karena kolam ini bisa memiliki pakan alami berupa cacing dan tumbuhan air. Berikut ini perlakukan yang bisa anda lakukan:
Sebelum kolam digunakan, lakukan terlebih dahulu pembajakan dasar kolam, penjemuran, pegapuran, pemupukan dan penggenangan air. Persiapan ini membutuhkan waktu 1-2 minggu, tergantung cuaca saat penjemuran kolam.
Gunakan benih ikan mas berukuran 100 gram per ekor. Kapasitas kolam tanah untuk budidaya ikan mas sebesar 1-2 ekor/m2.
Berikan pakan utama berupa pelet dengan kadar protein 25%. Dosis pemberian pakan sebanyak 3-4% dari bobot ikan. Misalnya, untuk ikan dengan bobot 100 gram berikan pakan 3-4 gram pelet per ekor per hari. Bila kita menanam 1000 ekor ikan berarti dibutuhkan pakan 3-4 kg per hari.
Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari, diberikan pagi, siang dan sore hari.
Setiap 2 minggu lakukan penimbangan bobot tubuh ikan mas. Ambil beberapa ekor secara acak, timbang. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang diberikan.
Dalam waktu 3 bulan, bobot ikan akan naik menjadi sekitar 300-400 gram per ekor. Dengan ukuran sebesar ini ikan sudah bisa dipanen. Bila terus dipelihara, biaya pakan menjadi tidak ekonomis lagi kecuali harga ada tawaran harga jual ikan yang lebih tinggi.

2. Kolam Air Mengalir Deras
Kolam yang kedua adalah kolam yang berarus deras, keunggulan kolam berarus deras ini nafsu makan ikan besar, karena ikan terus bergerak. Selain nafsu makan tinggi, kolam jenis ini juga sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan, karena oksigen terlarut yang tinggi pada kolam arus deras. Pada kolam ini, padat tebar bisa lebih tinggi ketimbang kolam air tenang.

Luas kolam air deras biasanya berukuran kecil, tidak sebesar kolam air tenang. Lahan atau areal kolam dipetak-petakkan menjadi ukuran kolam yang kecil-kecil agar aliran air bisa tetap deras. Kedalaman kolam dibuat lebih dalam dibanding kolam air tenang. Dinding kolam terbuat dari tembok untuk mencegah erosi akibat kikisan air.
Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan mas di kolam air deras:
Kolam air deras membutuhkan debit air yang besar sekitar 25-100 liter/detik. Pastikan sumber air tetap lancar.
Gunakan benih ikan dengan bobot 100 gram/ekor. Kapasitas penebaran benih di kolam air deras adalah 30-60 ekor/m2. Semakin deras aliran air, kapasitasnya semakin besar.
Berikan pakan dengan kandungan protein 25-30%. Pelet yang diberikan harus bisa bertahan dalam air, tidak mudah hancur karena aliran air cukup kencang.
Dosis pemberian akan adalah 4% dari bobot tubuh ikan. Timbang sebagian ikan setiap dua minggu sekali untuk menyesuaikan jumlah pakan.
Pemberian pakan bisa dengan cara ditebar atau menggunakan wadah almunium yang diletakan di atas kolam dengan pendulum menjulur ke dalam air. Pakan akan jatuh bila ikan menggerak-gerakkan pendulum.
Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari, pagi, siang dan sore.
Budidaya ikan mas bisa dipanen setelah 2,5-3 bulan, dengan hasil 3-4 kali lipat dari bobot awal.

3. Jaring Apung
Sarana budidaya ikan mas yang selanjutnya adalah jaring apung. Namun tentu saja tidak semua derah bisa menerapkannya, hanya lokasi yang memiliki danau, waduk atau rawa yang luas saja yang bisa menerapkannya.
Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan mas di jaring apung:
Gunakan jaring berukuran 1,5 cm. Kedalaman jaring apung 3 meter.
Gunakan benih berukuran 100 gram per ekor. Kapasitas padat tebar jaring apung sekitar 30 ekor/m2.
Pakan berupa pelet dengan kadar protein 25%.
Jumlah pakan yang dibutuhkan setiap hari adalah 4% dari bobot tubuh ikan. Timbang sebagian ikan setiap dua minggu untuk menyesuaikan jumlah pakan.
Frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari.
Ikan mas bisa dipanen setelah 3 bulan dengan ukuran 300-400 gram/ekor.

C. Pengendalian Penyakit dan Hama Ikan Mas
Sebagaimana ikan pada umunya, selalu ada hama dan penyakit yang dapat menyerang kapan saja. Maka dari itu, untuk menghindari kerugian akibat serangan hama dan penyakit, perlu dihindari dan dikendalikan dengan baik dan benar.

1. Hama Ikan Mas
Untuk hama ikan mas biasanya berupa linsang, ular, kodok, biawak, burung, hingga organisme kecil seperti larva, kutu, dan jenis serangga lainnya. Berikut ini cara mengatasi hama ikan mas yang bisa anda lakukan:
1.1. Bebeasan (Notonecta)
Pencegahan: pasang saringan halus dari kawat atau kain kasa di pintu masuk air. Saringan halus bisa mencegah benih dan telur bebeasan masuk ke dalam kolam.
Pemberantasan: Percikan minyak tanah pada permukaan air kolam. Jumlah minyak tanah yang diperlukan 5 cc/m2 luas permukaan kolam. Bebeasan akan mati bila minyak tanah masuk ke dalam sistem pernapasannya.
1.2. Ucrit (Larva cybister)
Pencegahan: bersihkan kolam dan lingkungan sekitarnya dari material organik. Selain itu pemasangan saringan di saluran masuk pintu kolam dengan kawat halus bisa mencegah hama ini masuk ke dalam kolam.
Pemberantasan: lakukan penangkapan ucrit secara manual, bisa menggunakan alat seser atau serokan dengan jaring halus. Bila dengan penangkapan tidak bisa, solusi akhirnya bisa menggunakan minyak tanah. Semprotkan minyak tanah ke permukaan kolam dengan dosis sama dengan memberantas bebeasan.
1.3. Ikan gabus
Pencegahan: penjemuran dasar kolam hingga kering sebelum memulai budidaya ikan akan menekan perkembangan ikan gabus. Ikan gabus bisa dicegah masuk ke dalam kolam memasang saringan dari ijuk secara rapat. Saringan ijuk mencegah telur, benih ikan dan ikan gabus dewasa untuk masuk ke dalam kolam.
Pemberantasan: ikan gabus bisa diambil dengan cara dipancing, berikan umpan berupa ikan kecil atau anak kodok.
1.4. Belut dan kepiting
Belur dan kepiting merupakan hama pengganggu dan kadang-kadang menjadi predator ikan. Hama ini biasanya merusak pematang atau tanggul kolam dengan membuat lubang, sehingga kolam menjadi bocor.
Penanggulangan belut dan kepiting dilakukan secara mekanis. Belut bisa dipancing langsung dari lubangnya. Biasanya belut akan keluar saat malam hari. Sedangkan untuk memancing kepiting keluar dari lubangnya, bisa dengan ditaburi sekam padi.
1.5. Kodok dan ular
Kodok dan ular biasanya memangsa ikan ukuran benih. Ular efektif dicegah dengan penangkapan langsung. Sedangkan kodok bisa dicegah dengan menjaga kebersihan kolam dan rajin membersihkan kolam dari telur kodok.
1.6. Linsang
Linsang ata berang-berang merupakan hewan karnivora pemakan ikan. Hewan ini sangat rakus dan bisa menyantap ikan yang berukuran besar. Linsang biasanya menyerang kolam ikan yang berdekatan dengan sungai, danau atau rawa.
Untuk mencegahnya adalah dengan memasang ranting bambu pada kolam atau memagari kolam. Memasang lampu penerangan pada malam hari membantu mencegah serangan linsang.

2. Penyakit Ikan Mas
Ada beberapa penyakit yang dapat menyerang ikan mas yang dapat membuat petani merugi, berikut ini beberapa diantaranya:
2.1 Bintik putih (White spot)
Bintik putih disebabkan oleh ichthyophthirius multifiliis, kelompok protozoa dari kelas ciliata. Gejala: bintik-bintik putih berlendir pada permukaan tubuh dan insang, gerakan ikan lambat dan sulit bernafas. Pada fase berat menyebabkan pendarahan pada sirip dan tertutup lendir. Ikan bergerak lamban dan muncul ke permukaan air.
Pencegahan: menjaga kualitas air, usahakan sirkulasi air kolam mengalir terus-menerus.
Pengobatan: pada fase pembelahan atau perkembangbiakan protozoa belum ada obat yang efektif. Selain fase itu bisa diobati dengan direndam dalam larutan methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air). Ambil 2-4 cc campurkan dalam 4 liter air. Perendaman selama 24 jam. Atau rendam dalam larutan garam dapur (NaCl) selama 10 menit. Dosis garam 1-3 gram per 100 cc air.
2.2. Bengkak insang dan badan
Disebabkan oleh myxospores, sejenis spora yang dihasilkan oleh mycobacteria. Ikan yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala insang selalu terbuka terdapat bintil putih kemerahan, pada bagian punggung terjadi pendarahan.
Pencegahan: keringkan dan jemur kolam sebelum budidaya dimulai. Berikan kapur tohor saat pengolahan tanah dasar kolam dengan dosis 200 gram/m2. Hingga saat ini belum ada obat yang efektif membrantas penyakit ini.
2.3. Cacing insang dan kulit
Disebabkan oleh organisme sejenis cacing, yakni cacing kulit (Gyrodactylus) dan cacing insang (Dactylogyrus). Gejala penyakit ini terlihat pada insang, terjadi pendarahan dan penebalan. Ikan terlihat menggosok-gosokkan badannya pada dasar atau dinding kolam, sirip kadang rontok, ikan tampak kurus, sisik buram.
Penanggulangan: direndam dalam larutan formalin 250 gram/m3 air selama 15 menit. Atau direndam dalam methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam.
2.4. Kutu ikan (argulosis)
Gejala: adanya bercak merah pada bagian sirip, kulit dan insang. Ikan terlihar kurus karena si kutu menyerap darah ikan.
Pengobatan: ikan yang terinfeksi direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan dosis 20 gram/liter air selama 15 menit.
2.5. Jamur (Saprolegniasis)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur, biasanya menyerang bagian kepala, tutup insang dan sirip. Kondisi air yang dingin akan mempercepat luka. Gejalanya pada tubuh ikan tampak seperti ada kapas, pada telur ikan akan tampak serabut seperti kapas.
Pengobatan: Ikan direndam dalam larutan Malachite Green Oxalat (MGO) dengan dosis 3 gram/m3 air selama 30 menit. Untuk telur, direndam selama 1 jam.
2.6. Gatal (Trichodiniasis)
Gejala: penyakit ini lebih sering menyerang benih ikan. Ikan yang sakit akan terlihat menggosk-gosokkan badannya ke benda keras. Tidak ada ciri khusus gejala penyakit ini.
Pengobatan: ikan yang terkena direndam dalam larutan formalin 200 ppm selama 15 menit atau MGO 0,1 gram/m3 selama 24 jam.
2.7. Bakteri (Aeromonas punctata)
Penyakit ini cukup ganas. Gejala: seluruh badan ikan menjadi kusam, kulit kesat, melepuh. Ikan bernapas lemah, terlihat megap-megap. Mengalami pendarahan organ dalam seperti hati dan ginjal, kantong empedu mengembung.
Pengobatan: berikan Terramycine dengan dosis 50 mg/kg berat ikan per hari, pemberian dicampurkan dengan pakan. Berikan selama 7-10 hari berturut-turut. Atau, lakukan penyuntikan dengan Chloramphenicol10-15 mg/kg bobot tubuh ikan.
2.8. Bakteri (Pseudomonas flurescens)
Gejala: gejala serangan mirip dengan aeromonas, kulit ikan mengalami pendarahan, luka pada kulit selanjutnya menjadi borok. Sirip ekor lambat laut terkikis dan rontok. Pendarahan pada organ dalam.
Pengobatan: berikan Oxytetracycline yang dicampurkan pada pakan, dosis 25-30 mg/kg bobot tubuh ikan per hari. Berikan selama 7-10 har berturut-turut.
2.9. Koi herves virus (KHV)
KHV merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang ikan koi. Namun pada tahun 2002 KHV mulai menyerang budidaya ikan mas secara besar-besaran, di Pulau Jawa yang segera menyebar ke Bali dan Sumatera. Bahkan sempat membuat kelesuan usaha budidaya ikan mas.
KHV bisa mengakibatkan kematian ikan secara massal. Penyakit ini bisa menyebar dengan cepat pada perairan bersuhu 15-27oC. Sehingga bila satu kolam budidaya maka kawasan disekitarnya biasanya ikut terserang juga. Tingkat kematian ikan akibat virus ini mencapai 80-100%.
Pencegahan: hingga saat ini tidak ada obat yang efektif mengendalikan KHV. Berdasarkan penelitian BBPBAT Sukabumi, pemberian cromium yeast bisa membantu meningkatkan kekebalan ikan terhadap penyakit ini. Cromium yeast adalah bahan yang biasa dicampurkan pada pakan hewan ternak. Pemberiannya dicampurkan dalam pakan.
D. Tahap Pemanenan Ikan Mas
Tahapan terakhir dari kegiatan budidaya ikan mas adalah proses pemanenan.Pada tahapan ini, ukuran ikan biasanya sekitar 300-400 gram per ekor. Usahakan ikan yang dipanen tidak melebihi ukuran tersebut, karena pertumbuhan dan pakan sudah tidak sesuai lagi, pertumbuhannya sudah melambat. Sementara untuk ukuran yang kurang dari itu sebaiknya bisa dibesarkan lagi.  Namun, bila ada pasar yang mau menerima ikan mas berukuran besar dengan harga per kilogramnya lebih mahal, pembesaran masih layak.

Waktu yang dibutuhkan untuk budidaya ikan mas dari ukuran 100 gram per ekor, sampai ukuran siap konsumsi 300-400 gram ekor sekitar 2-3 bulan. Dalam kurun waktu tersebut bobot ikan akan tumbuh 3-4 kali lipat.

Bagaimana? Anda tertarik untuk terjun ke budidaya ikan mas? Dengan prospek usaha yang sangat menjanjikan pasti banyak orang tergiur untuk turut serta dalam bisnis perikanan yang satu ini. Baca juga Budidaya Lobster Air Tawar





0 Response to "CARA BUDIDAYA IKAN MAS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel