CARA BUDIDAYA BAWANG MERAH

Syarat Pertumbuhan

a. Iklim
Angin merupakan hal iklim yg juga berpengaruh kepada pertumbuhan tanaman bawang merah. Sistem perakaran tanaman bawang merah yg sangat dangkal, jadi angin kencang yg berhembus terus-menerus dengan cara pribadi bisa menyebabkan kerusakan tanaman (tanaman roboh).
b. Curah Hujan
Tanaman bawang merah sangat rentan kepada curah hujan tinggi. Curah hujan yg sesuai untuk pertumbuhan tanaman bawang merah merupakan antara 300-2500 mm/tahun. Intensitas sinar matahari penuh lebih dari 14 jam/hari. Oleh alasannya merupakan itu, tanaman ini tak memerlukan naungan/pohon peneduh.
c. Intensitas Sinar Matahari
Bawang merah yg ditanam di kawasan yg tak lumayan memperoleh sinar matahari, tempat yg teduh, tak jarang berkabut alias terlindung pepohonan mengakibatkan pembentukan umbi tak tepat jadi ukuran menjadi kecil-kecil.
d. Suhu dan Kelembapan
Bawang merah sangat tepat ditanam di kawasan dengan suhu udara yg hangat-hangat panas, kering dan cerah. Bawang merah yg ditanam di kawasan dengan suhu udara rendah dan dingin pertumbuhannya terhambat. Suhu udara yg ideal untuk tanaman bawang merah antara 25-30 derajat C.
Kelembaban udara (nisbi). Untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan hasil produksi yg optimal, bawang merah menghendaki kalembaban udara nisbi antara 80-90 prosen.
e. Ketinggian Tempat
Dataran rendah tepat untuk membudidayakan tanaman bawang merah/brambang (shallot). Ketinggian tempat paling baik untuk tanaman bawang merah merupakan 800-1000 m dpl.
Ketinggian sebuah kawasan berkaitan erat dengan suhu udara. Semakin tinggi letak sebuah kawasan dari permukaan laut, suhu udara makin rendah. Sementara itu, pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh suhu udara.

Media Tanam

Tanaman bawang merah bisa tumbuh baik di sawah, tanah tegalan/pekarangan, asalkan kondisi tanah subur, gembur dan tak sedikit mengandung bahan organik/humus dan mudah mengikat air (porous) dan mempunyai aerasi (peredaran oksigen) yg baik.
Jenis tanah yg paling tepat merupakan tanah tipe lempung berpasir/lempung berdebu, alasannya merupakan tanah tipe ini mempunyai sistem aerasi dan drainase (pengairan) lumayan baik. Dengan bertambah banyaknya humus akan memperbesar kandungan hara semacam unsur NPK, Mn, Fe, Cu, Bo, Zn dan lain-lain.
Kesuburan tanah juga berafiliasi dengan tekstur tanah dan struktur tanah. Tanah yg subur tersusun oleh fraksi-fraksi pasir, debu dan liat yg seimbang. Tanaman bawang merah akan tumbuh baik pada tanah dengan kisaran pH optimum 5,8-7,0. Tetapi bawang merah tetap toleran kepada tanah dengan pH 5,5. Tanah yg asam dengan kualitas pH 5,5 akan menyebabkan garam Aluminium dalam tanah bersifat pribadi jadi tanaman tumbuh kerdil. Tanah yg terlalu basah dengan pH lebih dari 7 menyebabkan tanaman tak bisa menyerap garam mangan (Mn) yg mengakibatkan umbi yg dihasilkan kecil-kecil jadi produksi, kuantitas dan kualitasnya rendah. Kondisi tanah yg datar sangat sesuai dengan tanaman bawang merah. Apabila ditanam pada tanah yg memilki kemiringan jadi bisa dibangun terasiring.

TEKNIS BUDIDAYA

1.    Persyaratan Bibit
Kriteria yg wajib dipenuhi dalam pemilihan bibit tanaman bawang yg baik merupakan sabagai berikut:
a) Umbi bersumber dari umbi yg sehat.
b) Bibit dalam kondisi murni.
c) Umbi lumayan tua dengan masa tertentu (60-90 hari).
d) Ukuran dan berat umbi bibit seragam.

2.    Penyiapan Benih
Benih bawang merah diperoleh dengan tutorial generatif memakai umbinya. Umbi bisa diperoleh di kios penjual bibit/produsen bibit. Produsen menyediakan umbi bibit yg baik, jadi anggaran bibit lebih tinggi. Pemilihan bibit dilakukan pada awal melakukan perjuangan pembudidayaan tanaman tersebut. Selain itu, umbi bibit juga bisa diambil dari hasil panen sebelumnya yg telah dipersiapkan untuk umbi bibit.
Masa penyimpanan umbi merupakan 2,5-4 bulan. Kebutuhan bibit bawang merah untuk jarak tanam 20 X 20 cm jumlah bibit yg  diharapkan 200.000-250.000 umbi, untuk jarak tanam 20 X 15 cm jumlah bibit yg  diharapkan 240.000-300.000 umbi, sedangkan untuk jarak tanam 20 X 10 cm jumlah bibit yg  diharapkan 400.000-500.000 umbi. Luas penanaman lahan yg manjur hanya 80%. Adapun jarak tanam yg biasa diberlakukan untuk bawang merah merupakan 15-20 cm jarak antarbarisan dan 10-20 cm jarak di dalam barisan.
Sehari sebelum tanam, bibit dipotong sepertiga bagian dari ujungnya dengan cara hati-hati, kemudian dimasukkan ke dalam larutan atonik yg telah diencerkan dalam air (dosis sesuai anjuran) selam 5-10 menit, dan ditiriskan ditempat yg kering (diangin-anginkan).

3. Pengolahan Tanah
Urutan pengolahan tanah merupakan sebagai berikut:
a. Persiapan
Pengukuran pH tanah yg sesuai dengan pertumbuhan tanaman bawang butuh dilakukan dengan tutorial pengukuran campuran tanah dari lahan dan air dengan rasio tertentu kemudian diukur dengan pH-meter alias kertas lakmus merah/biru. Apabila pH lebih rendah dari yg ditentukan jadi tanah butuh dilakukan pengapuran.
b. Pembukaan Lahan
Mula-mula, tanah dibajak sedalam tak lebih lebih 20-30 cm dengan traktor alias bajak tradisional yg ditarik hewan. Agar lebih ekonomis dan efisien, pembajakan pada areal yg luas sebaiknya memakai traktor. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selagi 5-7 hari supaya bongkahan-bongkahan dampak pembajakan, mendapat lumayan angin dan sinar matahari dengan cara pribadi jadi beberapa macam patogen dalam tanah mati.
Selain itu, zat-zat racun yg berada di dalam tanah menguap alias teroksidasi, misal asam sulfida. Pengolahan selanjutnya, tanah diratakan sekaligus bongkahan-bongkahan dihancurkan dengan cangkul, lalu dibiarkan lagi selagi 7 hari supaya tanah menjadi kering. Setelah itu, dicangkul lagi hingga diperoleh struktur tanah yg gembur.
c. Pembentukan Bedengan
Lebar bedengan sebaiknya 80 cm, supaya air irigasi bisa meresap hingga ke tengah bedengan dengan cara sempurna. Panjang bedengan diadaptasi dengan lahan setempat, sedang tingginya dibangun sekitar 30-50 cm. Ukuran lebar selokan alias parit dibangun 30-40 cm dengan kedalaman 20-30 cm, dan ketika membikin selokan, sebaiknya tanah galian diletakkan di kiri-kanan selokan.
Untuk pembuangan air, buatlah saluran di sekeliling petak-petak bedengan selebar 60 cm dengan kedalaman 60 cm supaya lahan terhindar dari genangan air, khususnya pada trend hujan. Bila bawang merah ditanam pada trend penghujan, bedengan hendaknya dibangun lebih tinggi, dan selokan alias parit-parit dibangun lebih tinggi, dan selokan alias parit-parit dibangun lebih dalam supaya air hujan yg berkelebihan tak mengairi tanaman di bedengan.
Selain ukuran bedengan, butuh juga diperhatikan arah bedengan alasannya merupakan akan berpengaruh kepada penyebaran sinar matahari ke seluruh tanaman. Agar seluruh tanaman memperoleh sinar matahari dengan cara merata, jadi bedengan dibangun membujur arah Timur-Barat.
Arah ajaran jangan hingga searah dengan panjang bedengan jika irigasi dilakukan dengan sistem "lep", alasannya merupakan tanah yg dekat dengan sumber air menjadi jenuh dan mendorong perkembangan cendawan. Akibatnya tanaman bawang akan mati.
Bila pH tanah tak lebih sesuai,  yg wajib dilakukan merupakan melakukan pengapuran.Pengapuran dilakukan jika pH tanah tak sesuai dengan tanaman bawang merah. Apabila tak dilakukan pengapuran jadi tanaman bawang merah akan susah menyerap beberapa unsur semacam Mn. Tetapi ada unsur yg terserap dan menjadi racun bagi tanaman itu sendiri (unsur Al).
Dosis pemakaian kapur (dolomit) untuk menetralkan pH merupakan sebagai berikut:
a) pH tanah 4,0 = 10,24 ton/ha.
b) pH tanah 4,5 = 7,87 ton/ha.
c) pH tanah 4,75 = 6,68 ton/ha.
d) pH tanah 5,0 = 5,49 ton/ha.
e) pH tanah 5,25 = 4,31 ton/ha.
f) pH tanah 5,50 = 3,12 ton/ha.
g) pH tanah 5,75 = 1,98 ton/ha.
h) pH tanah 6,0 = 0,75 ton/ha.
d. Pemupukan
Pupuk yg dipakai sebagai pupuk dasar merupakan pupuk kandang. Bedengan yg telah bersih dari rumput diberi pupuk sangkar sebanyak 15-20 ton/hektar yg ditaburkan di permukaan bedengan dengan cara merata. Setiap satu meter persegi lahan memerlukan pupuk sangkar sebanyak 1,5-2,0 kg. Setelah pupuk ditabur, kemudian dicampur dengan tanah di permukaan bedengan hingga merata.Pupuk sangkar mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan pupuk anorganik, yaitu:
a) Dapat membenahi struktur tanah.
b) Menambah unsur hara.
c) Menambah kandungan humus alias bahan organik.
d) Memperbaiki kehidupan jasad renik yg nasib dalam tanah.
Dalam setiap hektar/tanaman, unsur hara yg wajib disediakan untuk penanaman bawang merah ialah 100-120 kg N, 150 kg P2O5, dan 100 kg K2O. Apabila dipakai pupuk tunggal, semacam Urea, SP-36, dan KCl jadi pupuk yg diberikan 222-267 kg urea; 312,5 kg SP-36 dan 200 kg KCl.
Waktu pemupukan antara pupuk organik dan buatan dilakukan 3 bagian yaitu:
Pada ketika pengolahan alias menjelang tanam diberikan pupuk kandang. Pada ketika tanaman berusia 2-3 minggu seusai tanam. Pada waktu itu diberikan setengah bagian pupuk urea dan satu bagian pupuk SP-36 dan KCl. Pada ketika tanaman berusia 4-5 minggu pada waktu itu tanaman diberi pupuk urea lagi setengah dosis. Urea ini merupakan sisa yg sempat diberikan pada ketika tanaman berusia 2-3 minggu.
Pemupukan bawang dilakukan dengan membikin alur dengan cara melingkar/secara larikan. Kedalam celah alur antara 3-5 cm/setinggi umbi bibit yg ditanam tegak berdiri, sedangkan jarak celah pemupukan dengan tanaman bawang merah antara 5-10 cm tergantung perkembangan tanaman. Setelah pupuk dimasukkan ke dalam celah tersebut, celah pupuk ditutup dengan tanah dan sekaligus dilakukan penyiangan dan pembubunan.

4.  Penanaman
a. Mengatur jarak tanam
Pengaturan jarak tanam bawang dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
a) Kesuburan tanah.
b) Intensifikasi lahan.
c) Jenis tanaman dan perkembangannya.
Jarak tanam yg biasanya diterapkan pada penanaman bawang merah merupakan sebagai berikut: 20 cm x 20 cm, 20 cm x 15 cm, 15 cm x 10 cm.
b. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan celah tanam bisa dilakukan dengan tugal/alat lain. Kedalaman celah untuk penanaman untuk bawang merah merupakan dengan tinggi ukuran umbi bibit.

c. Cara Penanaman
Setelah celah tanam terbentuk, umbi bibit siap ditanam. Cara penanaman umbi bibit/siung ialah umbi bibit/siung dipegang dengan posisi bagian yg dipotong berada di atas permukaan tanah. Selanjutnya, lahan yg telah ditanami bibit tadi ditutup jerami sebagai mulsa dan disiram secukupnya.

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG

                Pemeliharaan utama diharapkan dalam budidaya bawang merah. Pemeliharaan itu meliputi:
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tindakan penyulaman pada tanaman bawang merah dilakukan pada tanaman yg telah tumbuh di lahan. Penyulaman dilakukan untuk mengganti benih/bibit yg tak tumbuh, mati/ jelek pertumbuhannya.
Secara matematis biasanya penyulaman tak melebihi 10 prosen dari jumlah yg ditanam. Misal dari 600 celah tanaman, jumlah yg disulam paling hanya 10-60 tanaman saja. Batas toleransi mencapai 25 prosen dari jumlah tersebut alias pada contoh sekitar 150 tanaman. Bila telah melebihi jumlah 50 prosen sebaiknya tanaman diganti semua.
2. Penyiangan
Penyiangan bawang merah dilakukan dua kali/lebih selagi satu trend tanam. Penyiangan pertama dilakukan pada ketika tanaman mulai tumbuh, pertumbuhan daun mulai tampak, yaitu pada umur 2-3 minggu seusai tanam. Penyiangan berikutnya dilakukan pada umur 4-5 minggu seusai tanam. Penyiangan selanjutnya sangat tergantung pada kondisi lingkungan.
Pada ketika berjalan pertumbuhan umbi, penyiangan dan penggemburan diupayakan dengan cara hati-hati. Alat yg dipakai untuk penyiangan bisa berupa koret/cangkul kecil dan dicabut dengan tangan.
3. Pembubunan
Pembubunan dilakukan pada tepi bedengan yg sering longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah dari selokan/parit di sekeliling bedengan, supaya bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam jadi drainase menjadi normal kembali. Pembubunan juga bertujuan membenahi struktur tanah dan akar yg keluar di permukaan tanah tertutup kembali jadi tanaman berdiri kuat dan ukuran umbi yg dihasilkan bisa lebih besar-besar.
4. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan pada tanaman bawang merah dilakukan semenjak awal tanam. Selama 7 hari awal penanaman penyiraman dilakukan pagi dan sore. Selanjutnya penyiraman dilakukan satu hari sekali. Khusus kondisi kelembaban di dalam tanah cukup, irigasi bisa dilakukan dua hari sekali pada sore hari.
Pengairan ini diberikan hingga tanaman berusia 6 minggu. Selama pembentukan umbi, frekuensi penyiraman butuh ditingkatkan 2 kali sehari. Biasanya pada ketika itu tanaman telah berusia tak lebih lebih 2 bulan, tergantung varietas tanaman. Pada ketika umbi mencapai ukuran maksimal dan tanaman mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan warna daun, irigasi dihentikan. Pemberian air bisa dilakukan dengan meresapkan air melewati parit-parit/penyiraman pribadi pada bedengan.
5. Penanggulangan Hama dan Penyakit Tanaman Bawang
Penanggulangan hama dan penyakit hendaknya memakai konsep pengendalian hama dan penyakit dengan cara terpadu. Yaitu memakai cara-cara pencegahan dengan sanitasi lingkungan, dengan memakai sedapat mungkin tutorial non kimia, mekanis, musuh alamiah dan menempatkan opsi memakai bahan kimia sebagai pilihan terakhir.
Bila terpaksa wajib memakai bahan kimia wajib  memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Digunakan pada waktu yg tepat, yaitu pada waktu timbul eksploitasi hama dan penyakit.
b) Digunakan pestisida dengan cara selektif, yaitu pestisida yg berdaya racun tinggi tetapi
     hanya membunuh hama sasaran.
c) Digunakan pestisida dengan dosis seminimal mungkin, yaitu dipakai pestisida dengan dosis yg sesuai dengan lingkungan setempat.
d) Digunakan pestisida sesuai dengan luas areal dan pada kawasan tanaman yg terserang saja.

HAMA DAN PENYAKIT BAWANG MERAH

Beberapa hama dan penykit tanaman bawang merah merupakan :

1. Hama
a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)
Gejala: pada pangkal batang menunjukkan adanya bekas gigitan/bahkan terpotong hingga tanaman rebah. Pada agresi yg canggih ulat ini memakan umbinya hingga berlubang.
Pengendalian: menunjukkan insektisida Basamid G alias Azodrim 15 WSC di sekitar tanaman, kemudian diairi dengan tutorial di "leb". Basamid diberikan dengan tutorial dicampur bersamaan dengan dosis sama dengan pemupukan (dosis 20-30 kg/ha). Selain dengan insektisida, pengendalian bisa dilakukan dengan cara:
(1) melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Tanaman inang yg bisa terserang hama ulat tanah merupakan tanaman hortikultura (tomat, kubis, petsai dan kacang), tanaman pangan (padi gogo dan jagung), tanaman perkebunan (kapas, kosela, kop, dan teh);
(2) mengumpulkan dan membunuh ulat pada pagi hari yg ditemukan di sekitar tanaman/di tanah;
(3) memasang umpan beracun yaitu insektisida tricloroform dengan dosis 2-4 kg bahan aktif, 20 kg dedak dan 1-2 kg gula merah untuk areal seluas 1 ha. Bahan-bahan tersebut dilakukan dalam 20 liter air dan disebarkan di lahan.
(4) menaburkan Furadan 3 G yg berbahan aktif karbofuran sebanyak 25 kg/ha dengan cara merata kemudian lahan diairi.

b. Ulat daun (Spodoptera exigua Hbn.)
Pada awal pertumbuhan tanaman hingga dengan pembentukan anakan, tak jarang terjadi agresi hama ulat daun. Bagian tanaman yg diserang merupakan daun, baik daun yg tetap belia maupun yg telah tua.
Gejala: pada awalnya timbul telur ualat di permukaan daun yg akan menetas seusai 4-7 hari. Setelah menetas, ulat belia akan melubangi daun dan menggerek permukaan bagian dalam daun dengan menyisakan bagian epidermis luar, sehigga daun akan berwarna putih transparan, yg pada akhirnya terkulai. Pengerekan biasanya dimulai dari ujung, kemudian menuju ke pangkal daun.
Pengendalian: (1) melakukan pergiliran tanam dengan tanaman bukan inang (cabai, kapas dan tanaman kacang-kacangan semacam kacang tanah, kedelai, kacang hijau dan crotalaria). (2) memusnahkan kelompok telur yg ada di ujung daun dan ulat-ulat yg berada di permukaan dan bagian dalam daun dengan tutorial memantau setiap rumpun. Pemusnahan yg paling manjur dilaksanakan ketika ulat mulai keluar, yaitu pada malam hari setiap 2 hari sekali.
(3) menyemprot dengan insektisida akan sangat efektif, jika telah di temukan jumlah ulat untuk setiap umur tanaman lumayan banyak. penyemprotan hama telur dan larva ulat daun dengan insektisida "Larvin 375 AS" dan "Atabron 50 EC" yg sesuai merupakan sebagai berikut: (1) Pupuk daun/TRESS (dosis 20 cc), Larvin 374 AS (dosis 40 cc), Agristik ( dosis 20 cc), Dithane M-45(dosis 20 gram) alias (2) Pupuk daun/TRESS (dosis 20 cc), Atabron 50 EC (10-20 cc), Agristik (dosis 20 cc), Dithane M-45 (dosis 20 gram). Keempat obat tersebut dicampur dan dilarutkan dalam 10 liter air. Bila tak menunjukkan agresi cendawan, Dithane M-45 tak digunakan. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada malam hari pula, ketika ulat telah aktif. Interfal penyemprotan merupakan 2-3 hari sekali. Penyemprotan dengan tutorial ini hasilnya lumayan memuaskan, tetapi biasanya tetap tersedia pula yg tersisa yg tak sedikit telah mencapai stadia dewasa (instar 4-5).
c. Hama putih/Trips (Thrips tabacci Lind)
Gejala: noda putih mengkilat semacam perak pada daun, yg kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Biasanya agresi canggih terjadi kalau suhu udara berada diatas 70%. Namun, pada trend hujan. Namun, pada trend hujan/ketika suhu udara dingin sekali, hama ini akan menghilang dengan sendirinya. Tanaman bawang merah yg terserang berat, seluruh daunnya akan berwarna putih jadi umbi yg dihasilkan menjadi kecil-kecil dan berkualitas rendah.
Pengendalian: (1) tak menanam bawang merah di lahan bekas tanaman yg terkena serangan, dan tak menanam tanaman inang (cabe, tomat, kentang, waluh dan bayam); (2) menanam pada pertengahan bulan April hingga dengan awal bulan Mei, yaitu ketika suhu udara dan kelembaban belum tinggi; (3) memberantas dengan cara kimiawi dengan menyemprotkan Akarisida semacam Bayrusil 250 EC, Meathrin 50 EC. Kedua Akarisida ini merupakan racun kontak dengan dosis 2 cc/liter air.

2. Penyakit Tanaman
a. Bintil akar Nematoda
Penyebab: eloidogyne Sp.
Gejala: menyerang akar jadi menyebabkan daun menjadi layu pada sore hari mesikipun airnya cukup; daun menguning dan akhirnya mati. Apabila tanaman dicabut tampak adanya pembentukan bintil-bintil pada akar. Pengendalian: menunjukkan nemasida, semacam Furadan 3 G sebanyak 20-80 kg/ha dengan tutorial dibenamkan sekitar perakaran tanaman dan kemudian diairi.
b. Bercak daun
Penyebab: Alternaria Sp.
Gejala: patogen ini biasanya menyerang daun dan kadang-kadang menyerang umbi tanaman bawang merah. Pada mulanya tampak bercak-bercak berwarna keputi-putihan, yg lama-kelamaan berkembang menjadi kelabu dan bertepung hitam. Ujung daun yg terserang akan mengering dan akhirnya menyebabkan kematian tanaman.
Pengedalian: menanam tanaman bergilir dengan tanaman bukan inang (bawang putih, bawang daun dan tomat). Selain itu di semprotkan dengan fungisida Antracol 70 WP, dosis 2 gr/liter air; interval penyemprotan 4-7 hari sekali yg dilakukan semenjak tanaman berusia 7 hari seusai tumbuh.
c. Busuk lunak
Penyebab: Rhizopus Sp.
Gejala: tanaman yg terserang memperlihatkan gejala kebasah-basahan dan mudah basi kalau disentuh. Apabila kulit umbi yg terserang dilukai, akan mengeluarkan cairan yg berwarna colkat muda/kekuningan. Tumbuh cendawan pada bagian yg luka; Pantogen ini mengeluarkan aroma yg khas semacam alkohol.
Pengedalian: dicabut umbinya dan dibuang dan dipakai bibit yg sehat dan baik.
d. Embun tepung
Gejala: adanya bintik-bintik yg berwarna abu-abu/hijau-pucat, khususnya di ujung daun, yg terjadi pada awal pembentukan umbi. Serangan akan bertambah canggih jika udara dalam kondisi lembab alias turun hujan. Akibatnya merupakan daun akan menguning mulai dari ujung yg menjalar ke pankal, kemudian mengering hingga tanaman layu dan mati.
Pengendalian: memakai bibit yg baik, menyiram bawang, merah dengan air, kalau tersedia embun pada daun di pagi hari, supaya titik yg mengkristal semacam supaya bisa segera cair sehigga daun tak membusuk, dan dengan tutorial kimiawi yaitu dengan fungisida semenjak tanaman berusia 7 hari seusai tumbuh; interval penyemprotran 4-7 hari. Interval penyemprotan lebih diperpendek pada trend hujan.
e. Busuk leher batang
Penyebab: Botrytis Allii Munn.
Gejala: agresi pada bagian lebar batang umbi. Biasanya berwarna abu-abudan pada agresi berikutnya akan menjalar dan menyerang umbinya. Akibatnya umbi menjadi busuk, berkeriput dan akhirnya kering. Serangan penyakit ini biasa terjadi di kawasan pertanaman alias di tempat penyimpanan.
Pengendalian: dibangun saluran drainase yg baik supaya air yg berlebih cepat terbuang, demikian pula dengan selokan dibangun lebih dalam (40-50 cm) khususnya pada trend penghujan. Dilakukan penyemprotan dengan cara kimiawi dengan fungisida, antara lain dengan Rovral 50 WP dengan dosis 2-4 gr/liter air, Topsin M 70 WP dengan dosis /konsentrasi 0,5-1,0 kg/ha, volumenya bervariasi antara 300-500 liter/ha tergantung pada umur tanaman; interval penyemprotan antara 4-7 hari semenjak tanaman berusia 2 minggu.
f. Layu Fusarium
Penyebab: Fusarium Sp.
Gejala: agresi diawali dengan kelayuan pada ujung daun yg menjalar ke pangkalnya. Infeksi biasanya dimulai dari akar/luka pada umbi. Akibatnya merupakan umbi membusuk, berwana kuning kecoklatan dan permukaannya basah dan lunak. Penyakit ini bisa juga menyerang bawang merah yg telah disimpat di gudang.
Pengendalian: menyemprotkan fungisida semacam Antrakol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air, Score 250 EC dengan dosis 0,5-1 ml/liter air. Volume penyemprotan dalam 1 ha berkisar antara 400-600 liter dengan interval 4-7 hari sekali, tergantung pada hebatnya agresi yg terjadi. Dan singkirkan umbi yg basi dari gudang untuk segera dibuang.


 PEMANENAN

Ciri dan Umur Panen tanaman bawang merah sangat ditentukan oleh varietas dan ketinggian tempat tumbuhnya. Bawang merah yg ditanam di dataran tinggi, umurnya lebih panjang daripada ditanam di dataran rendah.
Di dataran tinggi bawang merah biasanya dipanen pada umur 60-70 hari. Ciri-ciri tanaman bawang merah yg siap dipanen merupakan sebagai berikut:
a) Daun tanaman mulai menguning, leher batang tampak lemas yg meliputi sekitar 75-85 prosen dari jumlah tanaman.
b) Sebagian besar umbi telah keluar dari permukaan tanah, lapisan umbi penuh berisi, dan warnanya merah mengkilap.
Bawang merah yg dipanen terlalu belia akan cepat lunak dan berkeriput ketika dikeringkan. Jika umbi tersebut disimpan menyusut, cepat membusuk, dan keropos. Selain itu panen pada tanaman yg belum lumayan umur akan menyulitkan pemungutan hasilnya, alasannya merupakan batang bawang merah yg tetap belia patah ketika dicabut. Hal ini menyebabkan tak sedikit banyak umbi tertinggal di bawah tanah, jadi menyebabkan berkurangnya hasil panen.
Bawang merah yg dipanen telah lumayan tua, umbinya akan lebih keras, padat, mempunyai daya simpan lama, tak mudah keriput, dan tak mudah busuk. Bawang merah yg ditangani dengan cara intensif, produksinya rata-rata bisa mencapai 7-15 ton per hektar, tergantung pada varietasnya.
Panen sebaiknya dilakukan ketika cuaca sedang cerah, tak ada hujan dan pada pagi hari. Selain itu, kondisi tanahnya wajib sangatlah kering untuk mencegah terjadinya pembusukan umbi ketika disimpan. Jika tanahnya gembur, pemenenan bisa dilakukan dengan dicabut dengan cara hati-hati supaya tak ada umbi yg tertinggal di dalam tanah. Di lahan yg tanahnya padat, pemenenan dilakukan dengan alat pencungkil yg bagian ujungnya pipih dan agak runcing dengan gancu. Bawang yg telah dicongkel segera dibersihkan dari tanah yg melekat.

0 Response to "CARA BUDIDAYA BAWANG MERAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel